Cari

Uga Wangsit Siliwangi: Budak Angon yang Ditunggu

Ilustrasi: model galeri-iket.com
[Historiana] - Sosok "Satria Piningit" memang masih misterius. Banyak sudah yang mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri­. Alhasil, ada yang yakin telah menemukannya, bahkan juga ada yang mengaku dirinyalah si Satria Piningit tersebut. Apabila diteliti maka sosok yang telah ditemukan itu masih bisa diragukan apakah memang dia si calon Ratu Adil?


Budak Angon atau "Penggembala" sesungguhnya merupakan konsepsi tentang kehidupan dan kemanusiaan. Dalam konteks diri manusia, Budak Angon merupakan konsep tentang penemuan jati diri dan pengendalian diri untuk apa sesungguhnya kita dicipta. Selain jasad kita yang sesungguhnya hanyalah "tunggangan" yang harus ditundukkan, dikendalikan, dan diarahkan melalui proses "penggembalaan"­, dalam diri kita juga terdapat kumpulan "sasatoan" yang tidak untuk dimatikan melainkan untuk digembalakan sehingga menjadi potensi dan energi positif bagi penemuan misi hidup kita.

Dalam kehidupan sesama, Budak Angon menjelaskan suatu upaya dan proses "penertiban", pembangunan kesadaran, serta pengarahan hubungan antarsesama yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Suatu tatanan kehidupan yang lebih berkeadilan. Dalam konteks sosok, pribadi-pribadi­ yang bekerja keras dalam upaya dan proses yang demikianlah disebut Budak Angon.

“Ti dinya loba nu ribut; mimiti ti jero dapur, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gelo marantuan nu garelut, di kokolotan ku budak buncireung! Matakna gareleut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang panglobana; nu teu hawek hayang loba; nu boga hak marenta bageanan” (Dari sana banyak yang ribut; dari mulai di dalam dapur, dari dapur jadi satu wilayah, dari wilayah jadi satu negara! Yang bodo jadi pada gila membantu yang berkelahi, dipimpin oleh “Budak Buncireung) 
“Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju nareangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateupan ku handeuleum di tihangan ku hanjuang”.(Buta-buta kemudian pada masuk, yang berkelahi pada khawatir, pada takut dituduh yang menyebabkan hilangnya negara. Kemudian mencari “Budak Angon”, yang rumahnya di sisi sungai yang pintunya batu “setangtung” diatap “handeuleum”, bertiang oleh “hanjuang) 
“Nareangan budak tumbal, Tapi, sejana dek marenta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, enggeus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawene !!”(Pada mencari “Budak Tumbal”, tapi, maksudnya mau minta tumbal. Tapi, budak angon sudah tidak ada, sudah bertindak bersama-sama dengan “Budak yang Berjanggut”; sudah pergi pindah membuat babak baru, pindah ke “Lebak Cawene!!) 
“Ari ngangonna? Lain KEBO, lain EMBE, lain MEONG, lain BANTENG, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun.”(Kalau menggembalanya? bukan kerbau, bukan kambing, bukan, kucing, bukan banteng, tapi daun kering dan kayu tunggul. Yang bersangkutan terus mencari, mengumpulkan yang ketemu. Sebagian disembunyikan, sebab belum waktu dilakonkan. Nanti jika sudah waktu dan masanya, akan banyak yang terbuka dan pada ingin dilakonkan) 
“Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul” (Yang terlihat hanya tinggal gagak, yang sedang berkoar di atas kayu tunggul) 
“Engke oge dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia eta budak angon !” (Nanti juga kamu akan pada tahu. Sekarang, cari olehmu itu budak angon) 
“Jig, geura narindak ! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang !” (Silahkan, cepat bertindak ! Tapi, jangan menoleh ke belakang) 
“Darengekeun!! Jaman bakal ganti deui. Tapi engke, amun gunung Gede anggeus bitu di susul ku tujuh gunung. Genjlong deui sajajagat. Urang Sunda disasambat, urang Sunda ngahampura. Hade deui sakabehanana. Bangunan ngahiji deui. Mangsa jaya, jaya deui; sabab Ratu anu anyar, Ratu Adil sajati. Tapi Ratu saha ? Ti mana asalna eta Ratu?” (Dengarkan!! Jaman akan berganti lagi. Tapi nanti, jika gunung Gede selesai meletus disusul oleh tujuh gunung. Gempa lagi sejejagat. Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Bangunan bersatu kembali. Masa jaya, jaya lagi; sebab Ratu yang baru, Ratu Adil sejati. Tapi Ratu siapa? Dari mana asalnya itu Ratu?) 
“Engke oge dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia eta budak angon!” (Nanti juga kamu akan pada tahu. Sekarang, cari olehmu itu budak angon !)

Mengapa Budak Angon Ditunggu?

Jagat politik di negeri ini ibarat seluas bak papan catur. Kelihatannya dinamis, taktis, penuh gereget, dan menguras banyak energi, tetapi sesungguhnya kinerja politisi hanya berputar-putar di situ-situ saja. Gersang langkah dan karya-karya nan agung.

Ini tergambar dari setiap agenda politik yang mereka perdebatkan dan perjuangkan dari waktu ke waktu masih terpolarisasi oleh buruan pragmatis masing-masing. Perangainya, bila targetnya kandas, mereka ngalor-ngidul meracau dengan mengatasnamakan rakyat.

Muruahnya, politik bukan sekadar ajang menggenggam kekuasaan, melainkan medan pengabdian. Roh pengabdian ialah pengorbanan. Laku mulia inilah yang masih terus menandus dalam jiwa para elite.

Inilah kiranya kenapa demokrasi yang digadang-gadang sebagai tool menggapai percepatan kemakmuran bangsa akhirnya belum membuahkan hasil. Elite sepertinya tidak pernah bangkit naik kelas, kering bersemainya jiwa-jiwa pengorban.
Baca Juga

Sponsor